ININFO, Banggai Laut – Seiring persiapan Festival Tumbe, salah satu acara budaya tahunan di Kabupaten Banggai, keresahan muncul di kalangan kader muda Banggai Laut, khususnya dari Hasta Lamada, terkait ancaman kepunahan burung maleo.
Mereka menyerukan perlunya langkah-langkah konservasi yang lebih ketat untuk melindungi populasi maleo, mengingat spesies ini semakin langka dan hampir punah.
Hasta Lamada menyatakan, “Saya rasa ke depan harus dikurangi porsi pengambilan telur maleo. Saya mengajak seluruh Tama Tina utus utus sasaibino untuk bersama-sama menjaga burung maleo demi kelestarian budaya kita, agar jangan sampai burung maleo hanya tinggal simbol.”ujrnya
Tradisi Malabot Tumbe, ritual adat Banggai yang telah dilakukan secara turun-temurun, menjadi sorotan karena melibatkan pengambilan telur maleo dari sarangnya di tanah atau pasir.
Walau ritual ini memiliki nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat setempat, praktik tersebut memberikan tekanan besar pada populasi burung maleo yang kini berada di ambang kepunahan.
Menurut data, populasi maleo telah menurun hingga 90% sejak tahun 1950, akibat berbagai faktor seperti penebangan liar, kebakaran hutan, dan pengambilan telur secara berlebihan.
Pelestarian burung maleo menjadi prioritas, dan masyarakat adat setempat kini dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan antara menjaga tradisi dan melestarikan spesies.
Pemerintah bersama masyarakat adat dan ahli konservasi perlu berkolaborasi untuk merancang langkah-langkah yang bijak, termasuk edukasi dan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kelangsungan maleo.
Regulasi yang membatasi pengambilan telur berlebihan sangat dibutuhkan untuk memastikan tradisi Malabot Tumbe dapat dilanjutkan tanpa mengorbankan burung maleo yang menjadi bagian penting dari kekayaan alam dan budaya Banggai.***









