ININFO, TOILI – Kecamatan Toili merupakan salah satu andalan penghasil beras di Kabupaten Banggai, yang kerap dihadapkan pada masalah besar yang mengancam keberlanjutan produksi pertanian mereka.
Dengan produktivitas padi sawah yang mencapai 4,02 ton/ha, kecamatan ini menjadi pilar utama ketahanan pangan daerah. Sayangnya, para petani di Toili harus berjuang keras untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) solar bersubsidi, yang merupakan kebutuhan vital untuk mengolah lahan pertanian mereka.
Menurut Karmuji, Ketua Kelompok Tani Desa Sentral Sari, kesulitan yang mereka hadapi dalam mendapatkan solar subsidi sangat berpotensi menyebabkan kegagalan tanam.
“Kalau petani tidak dapat BBM, bisa-bisa gagal tanam, jadi meskipun mahal tetap kami beli,” keluh Karmuji.
Ia menjelaskan, sering kali para petani hanya bisa mendapatkan satu galon solar (35 liter) dengan harga yang sangat tinggi, mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu per galon.
“Sering ada petani yang mengamuk di SPBU saat antri, namun, selalu kalah karena di hadapkan dengan preman (Calo) di SPBU itu,” lanjutnya.

Meskipun pemerintah telah memberikan subsidi untuk solar, kenyataan di lapangan berbeda. Banyak petani mengaku merasa kesulitan karena prioritas pengisian solar di SPBU Singkoyo Toili diberikan kepada para calo atau penampung, yang membuat akses petani menjadi sangat terbatas.
Kondisi serupa juga dialami oleh warga Desa Mansahang, Kecamatan Toili, yang mengungkapkan kekhawatiran serupa, terutama menjelang musim tanam dan pasca panen. Ketegangan semakin meningkat seiring dengan pernyataan Kepala Desa Tolisu, Tarno Efendi, yang juga menyoroti masalah ini.
“Memang yang jadi kendala petani di sini adalah mendapatkan BBM solar bersubsidi,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Minggu 16 Maret 2025.
Tarno menambahkan, pihak desa berharap agar pemerintah daerah dan provinsi dapat memberikan solusi untuk mempermudah akses petani terhadap solar bersubsidi.
“Kami sangat berharap ada solusi agar petani bisa mendapatkan BBM solar bersubsidi dengan lebih mudah,” tambahnya.
Meskipun pasokan solar bersubsidi di Kecamatan toili cukup, keterlibatan calo di SPBU menjadi ancaman bagi para petani.
“Saya pernah membahas masalah ini dengan sesama kepala desa. Bahkan kami pernah berencana untuk menggelar aksi demonstrasi dengan membawa traktor ke SPBU Singkoyo,” ungkap Tarno, yang merasa hal ini perlu segera mendapatkan perhatian serius. ***















