Ininfo, Banggai – Setelah hampir empat bulan menunggu dengan sabar, nelayan Desa Sama Jatem akhirnya bisa memanen gurita di tiga lokasi penangkapan yang telah ditutup sejak 20 April lalu.
Dengan luas area sekitar 600 hektar, penutupan sementara ini merupakan bagian dari program konservasi berbasis masyarakat yang dipelopori oleh Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda).
Program yang awalnya direncanakan untuk ditutup selama tiga bulan ini, terpaksa diperpanjang hingga Agustus karena cuaca buruk yang melanda wilayah tersebut.
Namun, pada Jumat, 23 Agustus 2024, nelayan akhirnya bisa kembali ke laut setelah cuaca membaik. Pembukaan area tangkap ini dilaksanakan dengan dihadiri berbagai pihak penting, termasuk Pemerintah Kabupaten Banggai, perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Luwuk, serta masyarakat sekitar.
Camat Pagimana, Wahyudin Sangkota, awalnya merasa skeptis terhadap program ini, mengingat Japesda adalah organisasi dari luar wilayahnya. Namun, setelah melihat hasil yang dijanjikan, diapun memberikan dukungan.
“Pembukaan ini kami awasi, apakah benar memberikan peningkatan kesejahteraan dan tangkapan untuk masyarakat. Jika tidak, akan dilakukan evaluasi berkelanjutan,” ujar Wahyudin.
Pembukaan area tangkap ini tidak hanya berfokus pada hasil jangka pendek. Direktur Japesda, Nurain Lapolo, menjelaskan bahwa program penutupan sementara ini bertujuan untuk melindungi ekosistem laut dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam konservasi berbasis perikanan gurita. Dengan memberi kesempatan gurita untuk tumbuh dan berkembang biak, diharapkan bobot dan jumlah tangkapan dapat meningkat secara signifikan, yang akhirnya berkontribusi pada kesejahteraan nelayan.
Ferlin Monggesang, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banggai, menambahkan bahwa gurita adalah komoditas ekspor dengan potensi besar, terutama mengingat panjangnya garis pantai di WPP 714 dan 715 sepanjang Teluk Tomini serta Teluk Tolo.
“Potensi laut kita sangat besar dan harus dimaksimalkan,” ungkapnya.
Pada hari pertama pembukaan, salah satu nelayan, Ruslan, memperlihatkan hasil tangkapannya berupa gurita seberat hampir 4 kilogram, yang menunjukkan adanya peningkatan bobot gurita di area penutupan. Namun, kondisi cuaca ekstrem pada hari itu membuat para nelayan memutuskan untuk menunda aktivitas penangkapan pada hari berikutnya.
Hingga pada Sabtu, 24 Agustus 2024, cuaca yang lebih bersahabat. Membuat sebanyak 16 perahu nelayan turun ke laut, berpencar ke tiga lokasi penutupan. Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Arus bawah laut yang kuat membuat penangkapan gurita menjadi sulit.
“Susah, di bawah arusnya kencang sekali, bahaya kalau dilanjutkan,” ujar Frangky, salah satu nelayan, yang bahkan harus menyelam untuk mengejar gurita yang hampir terlepas dari tangkapan.
Meski demikian, hasil penutupan sementara ini menunjukkan hasil yang positif. Rahmad Bangkunis, Ketua Kelompok Nelayan Si Karimanang, mengungkapkan bahwa bobot dan jumlah gurita yang ditemukan di lokasi penutupan mengalami peningkatan.
“Banyak gurita, besar-besar, tapi waktu pembukaan ini bertepatan dengan musim baleba (Angin Timur), sehingga kami kesulitan untuk menangkap gurita,” katanya.
Musim baleba, yang dikenal dengan angin kencang dan ombak besar, memang menjadi tantangan tersendiri bagi para nelayan. Namun, dengan semangat dan kerja keras, nelayan Desa Sama Jatem tetap optimis bahwa hasil tangkapan mereka akan terus meningkat seiring dengan keberlanjutan program ini.
Turut hadir dalam kegiatan itu, Pemerintah Kabupaten Banggai yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Banggai Bapak Bambang Eka Sutedi, Kepala Dinas Perikanan Ferlin Monggesang, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Hasan Baswan, dan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (FORKOPIMCAM) Pagimana, Camat, Danramil, Wakapolsek Pagimana. Serta dihadiri oleh para kepala desa tetangga yaitu Kepala Desa dan Ketua BPD Jaya Bakti, Kepala Desa dan Ketua BPD Balai Gondi, para kepala desa dari Pulau Poat. Selain itu, kegiatan dihadiri oleh Dekan Fakultas Perikanan Universitas Muhammadiyah Luwuk beserta para dosen di lingkungan fakultas perikanan, koordinator penyuluh perikanan Kabupaten Banggai, penyuluh perikanan Kecamatan Pagimana, serta masyarakat Desa Sama Jatem. ***















