ININFO, BALANTAK – Aktivitas dua perusahaan batu pecah, yakni PT Teku Sirtu Utama dan PT Balantak Sirtu Utama, dituding menjadi penyebab banjir yang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Balantak Utara, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dalam beberapa hari terakhir.
Warga setempat mengungkapkan, banjir yang terjadi kini semakin parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mereka menduga hal ini berkaitan dengan aktivitas pertambangan yang dilakukan kedua perusahaan tersebut di sekitar aliran sungai.
Selain itu, perusahaan yang disebut-sebut milik Ko Roky tersebut juga diduga melakukan pembabatan hutan penyangga, yang selama ini berfungsi sebagai daerah resapan air dan pelindung alami dari banjir.
“Dulu tidak separah ini. Sekarang tiap hujan deras pasti banjir besar,” ujar salah seorang warga.
Menurut warga, kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang telah memperparah kondisi daerah aliran sungai, sehingga air dengan cepat meluap ke permukiman.
Atas kondisi tersebut, masyarakat mendesak pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk segera turun tangan menangani persoalan ini.
Mereka juga meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin operasional kedua perusahaan. Bahkan, warga secara tegas mendesak agar izin PT Teku Sirtu Utama dan PT Balantak Sirtu Utama dicabut apabila terbukti menjadi penyebab utama banjir.
“Kalau memang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat, lebih baik ditutup saja,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan maupun pemerintah terkait tudingan tersebut.***














